Senin, 18 November 2013

MENYUSURI SEJARAH WANAYASA

Menyusuri Sejarah Wanayasa Yang Ada Kaitannya Dengan Sejarah Purwakarta

Menurut Cerita Para Sepuh :

Ketika Pajajaran runtuh diperkirakan tahun 1579, berdirilah Kerajaan Sumedang Larang dengan rajanya bernama Prabu GEUSAN OELOEN dengan membawahi 5 Kabupaten Yaitu :

1. Sumedang
2. Sukapura
3. Parakan Muncang
4. Cianjur
5. Karawang

Cag :

Pada saat itu di Sumedang yang diangkat Bupatinya ialah R KOESOEMAHDINATA putranya Prabu GEUSAN OELOEN, sedangkan menurut paham yang lain seharusnya R SOERIADIWANGSA. Maka oleh karena itu R SOERIADIWANGSA minggat dari istana  dengan membawa teman sebanyak 80 keluarga menuju kearah Barat Laut. Ketika tiba di SURIAN, temannya yang 17 keluarga ditinggalkan, lalu beliau meneruskan lagi perjalanannya, hingga sampai ke SANCA (CISALAK) disini temannya ditinggal lagi sebanyak 10 keluarga, lalu beliau meneruskan lagi perjalanannya menuju arah barat, sesampainya di KALICOCOK BUBU kawannya ditinggal lagi sebanyak 30 keluarga, dari Kali Cocok Bubu Beliau terus menuju arah Barat Laut hingga sampai Sungai Citarum.

C a g :

Diceritakan di Sumedang, begitu Prabu GEUSAN OELOEN tahu bahwa R SOERIADIWANGSA minggat, lalu Prabu GEUSAN OELOEN mengutus  R SOERIADIKARA dan didampingi cucunya yang bernama R RAKSANAGARA, untuk segera menyusul R SOERIADIWANGSA.

R SOERIADIWANGSA bisa tersusul di Tanjungan Citarum, sampai sekarang dikenal dengan nama Tanjungpura. Lalu R SOERIADIWANGSA diajak pulang kembali, hanya beliau menolak dan berkata : “Raka tidak mau pulang lagi, mau terus ke Banten”, adiknya ( R SOERIADIKARA ) menjawab : “ Seandainya Raka tidak mau pulang, Rayi juga tidak akan pulang”. Lalu kata R SOERIADIWANGSA : “ Sukur, Seandainya Rayi tidak mau pulang, sekarang begini saja :
1. R RAKSANAGARA harus menetap disini, dengan ditemani 10 keluarga dan
2. R SOERIADIKARA harus menemui teman yang ditinggalkan di KALI COCOK BUBU sebanyak 30 keluarga
Dan ini sisanya yang 23 keluarga akan dibawa oleh Raka untuk teman Raka meneruskan perjalanan ke Banten”.

Ringkas Cerita :
  1. R SOERIADIWANGSA lalu meneruskan perjalanannya menuju Banten.
  2. R RAKSANAGARA menetap disitu, hanya disitu tidak lama, beliau pindah keselatan Tanjungpura yaitu KASUMEDANGAN, pada waktu itu kira-kira tahun 1604 M dengan gelar Dalem RAKSANAGARA
  3. R SOERIADIKARA dari Tanjungpura beliau balik lagi ke Kali Cocok Bubu untuk menemui teman-teman yang ditinggalkan sebanyak 30 keluarga, dan menetap disitu yang dikenal dengan nama BABAKAN. Dari Babakan R SOERIADIKARA tidak lama, lalu pindah kesebelah barat Cikali Agung, yaitu WANAYASA sekarang.

Waktu pindah ketika itu kebetulan pada hari senin tanggal 7 mulud tahun 1107 H jam 9 Pagi. 
Dinamai WANAYASA yaitu :
- WANA artinya Hutan
- YASA artinya Buatan
Jadi Hutan yang dibuat Kampung

Seterusnya R SOERIADIKARA menghadap kepada Prabu Amangkurat Mataram, ingin disahkan. Menurut cerita Prabu Amangkurat sendirilah yang berangkat ke Wanayasa untuk melantik R SOERIADIKARA dengan gelar R A SOERIADIKARA I.
Prabu Amangkurat terus balik lagi ke Mataram, tapi beliau meninggal di Tegal

Para Dalem Yang Mengolah Wanayasa :
  1. R A  SOERIADIKARA I tahun 1107 H (1686 M)
  2. Dalem PANENGAH
  3. Dalem R RADJADINATA
  4. Dalem R SOERIADIKARA II
  5. Dalem R SOERIADIKARA III
  6. Dalem R SOERIADIKARA IV (Dalem SUMEREN)

Keterangan :
  1. Dari mulai Dalem RA SOERIADIKARA I sampai ke Dalem SOERIADIKARA IV (Dalem SUMEREN), ini disebut Dalem Wanayasa yang Mandiri (Kedaleman yang tidak pernah dijajah oleh siapapun) dari tahun 1686 M sampai tahun 1820 M
  2. Setelah Dalem SUMEREN, Wanayasa  menjadi Kabupaten dari mulai tahun 1821 M sampai tahun 1830 M. Wanayasa jadi ibukota kabupaten Karawang dengan Bupatinya R SOERIANATA  (Dalem SANTRI) dari Tahun 1820 M sampai tahun 1827 M dan dari tahun 1827 M sampai tahun 1830 M Wanayasa dipimpinoleh Bupati R SOERIAWINATA (Dalem SOLAWAT)
  3. Wanayasa jadi kedaleman dan Kabupaten dari mulai 1830 M. Serta pada tahun 1830 M  Kabupaten Karawang yang beribukota di Wanayasa pindah ke Sindangkasih yang diberi nama PURWAKARTA
Catatan : Perbedaan Dalem dengan Bupati
  • Dalem = dilantiknya oleh raja
  • Bupati = dilantiknya oleh Pemerintahan Belanda

Lamanya Wanayasa Jadi Kedaleman + Kabupaten : 134 tahun
  1. Wanayasa jadi kedaleman yang mandiri dari tahun 1107 H (1686 M)  sampai tahun 1820 M = 134 Tahun
  2. Wanayasa jadi Kabupaten (Kabupaten Karawang yang beribukota di Wanayasa), mulai tahun 1821 M sampai tahun 1830 M = 9 Tahun
Dari tahun 1830 M Wanayasa jadi DISTRIK (KAWEDANAAN), mulai tahun 1900 M Wanayasa jadi KECAMATAN (ONDERDISTRIK) yang pertama menjadi Asisten Wedana (Camat) Wanayasa ialah POERAATMADJA dari tahun 1901 M sampai tahun 1915 M.

Selamat Membaca lebih lanjut lihat di Website saya : www.ujangrus59.com






CERITERA PERANG MAKAW

Ceritera Perang Makaw adalah kejadian perang didaerah RANCA DARAH diperkirakan pada tahun 1832 M.

Menurut Ceritera Sepuh :

134 tahun Wanayasa
jadi kedaleman yaitu dari tahun 1107 H (1686 M) sampai tahun 1830 M, mulai tahun 1821 M Wanayasa jadi Kabupaten (Ibu Kota Kabupaten Karawang dan Bupatinya R SOERIANATA, yang dikenal dengan DALEM SANTRI.
Pada masa itu dengan gagasan Gubernemen, di daerah Wanayasa diadakan TANAM PAKSA yang disebut CULTUUR STELSEL yaitu rakyat diwajibkan menanam kopi  dibawah pengawasan VOC, tempat untuk menanamnya dilereng pegunungan BURANGRANG, Wanayasa sebelah selatan, sebelah timurnya di CURUG CILAMAYA, sebelah baratnya sampai ke CIRAHAYU.
Pada perkiraan tahun1832 M setelahnya Wanayasa sudah tidak lagi menjadi Ibu Kota Kabupaten Karawang, terjadi suatu huru hara yang disebut PERANG MAKAW yaitu perang antara rakyat yang dipelopori oleh bangsa CINA MAKAO yang datang dari Purwakarta, perang dengan VOC, menurut cerita sepuh Bangsa Cina yang datang dari Purwakarta itu bertempat di Kampung Ciseureuh sekarang, terus merembes ke Wanayasa dan tempatnya di Perkebunan Kopi, di PASIR GARA CINA. terjadinya perang di perbatasan antara Wanayasa dengan Purwakarta, karena banyak korban dari kedua belah pihak yang bergelimpangan, darah banyak berhamburan sehingga menjadikan kubangan-kubangan darah di mana-mana (Kubangan = Ranca, Sunda Red), dan sampai sekarang tempat tersebut disebut RANCA DARAH yang artinya KUBANGAN DARAH.
Menurut cerita Sepuh Kota Purwakarta Hancur, dibumi hanguskan, waktu itu di Purwakarta sudah ada RESIDEN
Rakyat Wanayasa melawan VOC, selain dibantu oleh orang-orang Cina Makao, dibantu pula dari Purwakarta yaitu para pemberontak dan para narapidana yang dibebaskan oleh para pemberontak
Pemberontakan terus meluas, VOC kewalahan sehingga meminta bantuan ke Pusat yaitu ke BATAVIA, saat itu juga BATAVIA menghubungi Keresidenan Bandung, Kabupaten Cianjur dan sekitarnya. Seterusnya para Pemberontak dikepung wakul buaya mangap, dikepung dari segala penjuru dan digiring sampai ke LOJI Karawang, akhirnya para Pemberontak bubar ketawuran didaerah Karawang sebelah selatan.
Diceritakan pula di Wanayasa, diantaranya ada beberapa orang cina yang sembunyi di Wanayasa dan yang disembunyikan oleh orang Wanayasa, serta mereka menetap di Wanayasa, dan mulai saat itu di Wanayasa ada orang Cina yang Laga lagunya seperti orang pribumi saja, diantaranya ada salah seorang Bangsa Cina keturunan Cina Makao namanya BAH KECIL, hingga di Wanayasa ada nama suatu Gang dengan nama GANG KECIL yang letaknya disebelah kantor Bank BJB, diganti jadi Gang Burangrang, diganti lagi jadi Jalan Muh ENOH dan sekarang banyak yang menyebut Gang BJB, serta ada tempat dengan nama PINTU HEK letaknya dikampung CILEUNGSING Timur (Jalan Ke Pasir GARA CINA), PINTU HEK artinya PINTU GERBANG (Cina, Red) 

Jumat, 15 November 2013

CERITERA MAKAM SIGAY

Tidak jauh dari RANCA DARAH, masih termasuk pada wilayah  Desa Taringgul, terdapat sebuah makam keramat yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kecamatan Wanayasa, dengan nama MAKAM SIGAY, nama aslinya adalah EYANG TUBAGUS DOKO, beliau berasal dari Banten.
Di Banten EYANG TUBAGUS DOKO berjuang melawan penjajah dan menjadi buronan Belanda, demi untuk melanjutkan perjuangannya beliau melarikan diri hingga sampailah di daerah Taringgul Kecamatan Wanayasa.
Pada suatu hari, EYANG TUBAGUS DOKO ketahuan oleh Belanda, akhirnya dikepung wakul buaya mangap dan tertangkaplah beliau oleh Belanda.
Menurut Ceritera Sepuh, EYANG TUBAGUS DOKO adalah orang sakti mandraguna apabila tertangkap dan dimasukan kedalam penjara masih bisa kabur serta bebas berkeliaran diluar serta mempunyai ajian RAWARONTEK apabila dibunuh asal jasadnya menyatu atau disatukan lagi maka beliau hidup kembali.
Oleh karenanya ketika tertangkap pada saat itu EYANG TUBAGUS DOKO langsung dibunuh dan jasadnya dibagi dua (malah ada yang menceriterakan bahwa jasad beliau dibagi tiga). Dimakamkan didua tempat yang kesatu di MAKAM SIGAY, dan yang kedua di MAKAM SERPONG / SINDANGPANON, juga menurut ceritera senjata peninggalan EYANG TUBAGUS DOKO masih ada dan disimpan oleh Kuncen Makam.

Tokoh - Tokoh Wanayasa
  1. Tokoh Agama yaitu EYANG  KYAI  AGUNG
  2. Tokoh Silat yaitu EYANG  SYAHBANDAR
  3. Tokoh Kadugalan EYANG  SIGAY
Yang belum ketemu Ceriteranya adalah :
  1. Eyang R CONTO
  2. Eyang JIMBUL
  3. Eyang SUTABOMA
  4. Eyang JAYABAYA